Ads 468x60px

Sunday, January 10, 2010

Biografi Singkat Prof. DR. Sardjito

Tahun 2009 yang sudah lewat, saya pernah diberi tugas oleh lembaga pers tingkat fakultas untuk menulis biografi singkat tentang Prof. Sardjito. Saya sempat kebingungan untuk mencari informasi tentang beliau di Internet, karena sangat sedikit sekali. Maka dari itu setelah tulisan ini dicetak ke dalam buletin lembaga pers kampus, saya memposting tulisan ini ke dalam blog. Untuk mempermudah orang yang akan mencari biografi singkat tentang Prof. Sardjito. Tulisan ini saya ambil dari beberapa referensi, selamat membaca semoga bermanfaat.


Prof. Dr. dr. Sardjito, M.D., M.P.H.


sardjitoProf. Dr. dr. Sardjito lahir pada 13 agustus 1889 di desa purwodadi, kawedanan, mageran, wilayah kerasidenan madiun. Sulung dari lima bersaudara ini memiliki ayah yang berprofesi sebagai guru. Sardjito mengawali jenjang pendidikanya pada usia 6 tahun (1895) , beliau mulai belajar mengaji sekaligus menjalankan pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat (SR) di desanya. Pada tahun 1901 Sardjito menyelesaikan pendidikan dasarnya di lumajang. Setelah lulus SR, tidak jelas di sekolah apa Sardjito melanjutkan mendidikannya sampai 1907, apakah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan kemudian AMS (Algemene Middelbare School). Sejak tahun 1907 Sardjito melanjutkan jejang pendidikannya ke pendidikan tinggi kedokteran di STOVIA (School toot Opleiding voor Indische Artsen) serta meraih gelar dokter dengan predikat sebagai lulusan terbaik di tahun 1915.
Tanggal 20 mei tahun 1908, dengan dimotori oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo organisasi Boedi Oetomo didirikan. Sejak didirikannya organisasi itu, Sardjito masuk menjadi anggota karena ketertatikan pada bidang pendidikan sambil belajar berpolitik dalam organisasi. Masuknya Sardjito kedalam anggota Boedi Oetomo menjadi cikal bakal Sardjito memiliki jiwa nasionalisme. Walaupun telah menjadi anggota Boedi Oetomo, Sardjito tidak meninggalkan begitu saja tekatnya untuk berkecimpung di dunia kesehatan. Setelah lulus dari STOVIA, Sardjito bekerja di rumah sakit di Jakarta sebagai dokter selama setahun kemudian pindah di Institut Pasteur, Jakarta sebagai dokter juga sampai tahun 1920. Tetapi menjadi dokter saja tak cukup bagi Sardjito. Beliau mengembangkan ilmu kedokterannya dengan sebuah penelitian. Penelitian pertamanya adalah tentang penyakit influenza.
Pada tahun 1922, Sardjito memperdalam ilmunya di fakultas kedokteran universitas Amsterdam. Setahun kemudian, Sardjito belajar lebih intens lagi tentang penyaki-penyakit tropis, karena hal ini, Sardjito harus pindah ke universitas leiden yang letaknya tidak jauh dari Amsterdam. Di universitas leiden, Sardjito memperoleh gelar doctor pada tahun 1923. Setelah memperoleh gelar Doctor, Sardjito pergi ke amerika serikat untuk mengukuti kursus hygiene di Baltimore, Maryland. Disinilah, Sardjito memperoleh gelar M.P.H. dari John Hopkins University. Sepulang dari amerika, Sardjito mendapat kepercayaan untuk menjadi dokter laboraturium pusat Jakarta pada tahun 1924. Setahun setelahnya, Sardjito dipercaya untuk menjadi ketua boedi oetomo cabang Jakarta. Pada akhir masa jabatannya di laboraturium pusat Jakarta (1929), dia merangkap jabatan sebagai asisten kepala sekolah tinggi kedokteran di Jakarta. Dari Jakarta, Sardjito pindah ke makasar untuk memegang jabatan kepala laboraturium makasar pada tahun 1930.
Kesempatan kedua datang bagi Sardjito untuk pergi ke luar negeri pada tahun 1931. Kali ini Sardjito pergi ke berlin, jerman untuk memperdalam pengetahuannya tentang laboraturium. Sepulang dari jerman, Sardjito kembali mengepalai sebuah laboraturium, kali ini laboraturium di Semarang selama 13 tahun sampai tahun 1945. Selama di Semarang ini pula, Sardjito membantu mengadakan penelitian tentang penyakit lepra di Indonesia selama sepuluh tahun. Di saat yang sama, Sardjito harus membagi tugasnya untuk memegang jabatan sebagai pemimpin redaksi Medische Bricthen (berita ketabiban), sebagai Kedua Mardi Walujo Semarang serta ketua Izi Hokokai Semarang dan anggota pusat.
Karier Sardjito terus menanjak, ketika diamanahkan untuk menjadi rektor pertama UGM yang ketika itu disebut Presiden Universiteit Negeri Gajah Mada pada tahun 1949. Pemegang penghargaan Bintang Mahaputera Tingkat III tahun 1960 ini, menjabat sebagai rektor UGM selama 12 tahun 9 bulan. Selesai menjabat sebagai rektor UGM, Sardjito terpilih sebagai rektor UII menggantikan Kasmat Bahuwinangun pada tahun 1963. Pada saat di pimpim oleh Sardjito, UII membuka cabangnya di daerah diantaranya Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Tarbiyah di Gorontalo, Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi di cabang Cirebon, Fakultas Hukum dan Fakultas Syariah di Madiun, Fakultas Syariah di Bangil dan Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi di Klaten.
Mantan rektor UGM ini, ternyata membawa peranan untuk menjalin kerjasama antara UGM dan UII. Pada masa kepemimpinannya tewujudlah kerja sama andata UGM dan UII dengan di tandatanganinya piagam kerjasama pada tanggal 23 mei 1967 oleh rektor UII, Prof. Dr. dr. Sardjito dan rektor UGM drg. Nazir alwi yang berisi.
1. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran, UGM bersedia membimbing UII dalam hal-hal yang diperlukan
2. Dalam bidang penelitian, UGM bersedia membimbing UII akan hal-hal yang diperlukannya dan biasa yang berhubungan dengan keperluan tersebut akan di tanggung oleh UII.

Pada masa kepimpinan Sardjito pula UII mendirikan Organisasi Pers Mahasiswa UII pada tanggal 11 maret 1967. Sardjito mendukung penuh akan berdirinya Organisasi Pers mahasiswa UII. Hal ini ditandai dengan kata sambutan menjelang kehadiran majalah pertama Organisasi Pers Mahasiswa UII yaitu majalah Muhibbah.
Sardjito wafat ketika masih menjabat sebagai rektor UII pada tanggal 5 mei 1970. Wafatnya Sardjito yang secara mendadak sempat membuat UII kesulitan untuk mencari seorang figur yang mampu menggantikan sosok Sardjito. Saat ini nama Prof. Dr. dr. Sardjito, M.D., M.P.H., diabadikan sebagai salah satu nama Gedung Kuliah Umum (GKU) yang berada di kampus terpadu Universitas Islam Indonesia serta nama Rumah Sakit yang berada di Yogyakarta..

*) info tambahan dari Andhika Sudigda (via email saya)
"Tempat kelahirannya :desa purwodadi kec.barat (dulu kec karangmojo),kab.magetan.mohon dicek ulang kebenaran ini,sy pernah baca artikel ttg beliau..info:di kec kawedanan tidak ada desa purwodadi,mageran mungkin dimaksudkan adalah magetan.tq.sekedar info dari sy."


1 Comments:

  1. Selamat dan terima kasih, Mas baykun, p'jenengan sdh meletakan dasar2 utk penulisan biografi seorang tokoh pejuang pendidikan. Mdh2an akan ada yg melanjutkan. Sebagai info, dalam Buku "Orang Indonesia Jang Terkemoeka Di Djawa", 2603 (1943) yg diterbitkan oleh Gunseikanbu,tercantum tempat kelahiran Beliau Purwodadi (Magetan).

    ReplyDelete

 

Visitors


SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Statistics



Visit Indonesia

visit indonesia